Mengapa Horor Tiongkok Berbeda
Horor Barat bergantung pada jump scare dan pembunuh berantai. Sinema horor Tiongkok beroperasi pada frekuensi yang sama sekali berbeda — satu yang berakar pada berabad-abad kisah hantu (鬼故事 guǐ gùshì), metafisika Taoisme, dan gagasan yang mengganggu bahwa orang mati tidak benar-benar pergi. Roh di film-film horor Tiongkok tidak menghantui rumah kosong untuk bersenang-senang. Mereka kembali karena birokrasi kosmik di dunia bawah tanah (阴间 yīnjiān) memiliki pekerjaan yang belum selesai, atau karena yang hidup gagal menghormati yang mati dengan semestinya.
Perbedaan itu penting. Ini berarti sinema supernatural Tiongkok mengangkat beban emosional yang tidak dapat ditandingi oleh horor yang hanya bergantung pada kejutan. Ketika hantu muncul di film Tiongkok, hampir selalu ada alasan — sebuah kesalahan yang harus diperbaiki, cinta yang tidak dapat diputuskan oleh kematian, atau utang karma yang harus dibayar.
Zaman Keemasan: Horor Hong Kong (1980-an–1990-an)
Klasik tahun 1985 Mr. Vampire (僵尸先生 Jiāngshī Xiānshēng) menciptakan genre jiangshi secara sepihak. Sutradara Ricky Lau mengambil makhluk mayat hidup (僵尸 jiāngshī) dari cerita rakyat Tiongkok — tubuh yang dihidupkan kembali yang bergerak dengan melompat, mendeteksi yang hidup melalui napas mereka, dan dapat dihentikan dengan jimat-jimat kuning — dan mengubahnya menjadi emas komedi-horor.
Film ini melahirkan seluruh waralaba dan puluhan peniru. Apa yang membuatnya berhasil adalah otentisitas: pendeta Tao yang diperankan oleh Lam Ching-ying menggunakan teknik eksorsisme rakyat yang nyata — nasi ketan untuk memurnikan racun mayat, pedang kayu persik, dan jimat fu (符 fú) yang ditulis dengan tinta vermilion. Penonton yang tumbuh mendengar obat-obatan ini dari kakek nenek mereka mengenali setiap detailnya.
Produksi horor Hong Kong pada era ini sangat mencengangkan. A Chinese Ghost Story (倩女幽魂 Qiànnǚ Yōuhún, 1987) membayangkan kembali kisah Nie Xiaoqian dari Strange Tales from a Chinese Studio (聊斋志异 Liáozhāi Zhìyì) sebagai sebuah fantasi romantis yang memikat. Leslie Cheung memainkan seorang sarjana malang yang jatuh cinta pada hantu yang terikat pada iblis pohon — sebuah alur cerita yang akan langsung dikenali oleh Pu Songling, diperindah dengan kerja kabel dan visual berlebih dari Tsui Hark.
Gelombang Kedua: Horor Pan-Asia (1999–2006)
Ketika produksi bersama Thailand-Hong Kong The Eye (见鬼 Jiàn Guǐ, 2002) menghantam layar internasional, horor Tiongkok masuk ke dalam pembicaraan global bersama horor Jepang dan Korea. Disutradarai oleh Pang Brothers, film ini menggali ketakutan primal: bagaimana jika Anda tiba-tiba bisa melihat hantu (鬼 guǐ) yang selalu ada di sekitar Anda?
Konsep tersebut mencuat dari gagasan Buddhis bahwa orang tertentu memiliki mata yin-yang (阴阳眼 yīnyáng yǎn) — penglihatan spiritual yang memungkinkan mereka melihat roh yang tidak terlihat oleh orang biasa. Kepercayaan rakyat menyatakan bahwa anak-anak, orang sakit, dan mereka yang dekat dengan kematian lebih mungkin mengembangkan hadiah yang tidak diinginkan ini.
Selama periode yang sama, pembuat film Tiongkok daratan menghadapi tantangan sensor yang aneh: Administrasi Negara Tiongkok untuk Radio, Film, dan Televisi secara efektif melarang konten supernatural dengan mewajibkan semua cerita hantu memiliki "penjelasan rasional." Ini menyebabkan banyak karya kreatif yang harus disiasati.